Aceh Jadi Salah Satu Provinsi Paling Terdampak Bencana Hidrometeorologi

ACEH TIMUR – Aceh menjadi salah satu provinsi yang paling terdampak bencana hidrometeorologi di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim hujan di wilayah Indonesia bagian barat terjadi pada November hingga Desember 2025.
Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, yaitu di atas 150 milimeter per dasarian, berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Dalam beberapa pekan terakhir, BMKG mencatat 45 kejadian cuaca ekstrem, yang didominasi hujan lebat dan angin kencang, mengakibatkan banjir dan tanah longsor di berbagai daerah.
Prof. Eko menekankan bahwa perubahan iklim global memicu dampak negatif terhadap lingkungan, termasuk meningkatnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
“Kedua bencana ini dominan dan terjadi setiap tahun. Hal ini diakibatkan oleh curah hujan yang berlebihan, yang intensitasnya semakin tinggi,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Prof. Eko, daerah dengan risiko banjir terbesar adalah wilayah dekat sungai atau saluran air, serta daerah yang lebih rendah dari permukaan air laut.
Sementara daerah rawan longsor berada di pegunungan dengan lereng sedang hingga curam, tersusun dari material tanah atau batuan lapuk dan tebal, serta memiliki banyak beban di atas lereng.
“Pada prinsipnya, daerah yang rentan longsor aman dari banjir, dan daerah yang rentan banjir aman dari longsor,” jelasnya.
Tanda-tanda bencana bisa dikenali lebih awal. Longsor dapat terlihat dari retakan tanah atau bangunan, tiang atau pohon yang miring, serta guguran tanah atau batuan di lereng.
Banjir ditandai hujan deras berkelanjutan, permukaan air sungai yang naik, dan munculnya genangan di jalan atau sekitar rumah.
Oleh karena itu, Prof. Eko mendorong masyarakat untuk menggiatkan ronda lingkungan, terutama setelah hujan, agar tanda-tanda bencana bisa diantisipasi sejak dini.
Dalam mitigasi bencana, Prof. Eko menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media massa. Selain relokasi dan upaya fisik, solusi efektif untuk mencegah banjir dan longsor dapat dilakukan melalui modifikasi cuaca.
“Salah satu penyebab utama terjadinya banjir dan longsor adalah curah hujan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, modifikasi cuaca merupakan salah satu upaya efektif untuk mencegah bencana,” jelasnya.
Prof. Eko menambahkan bahwa perubahan iklim global tidak dapat dihindari, sehingga masyarakat harus menghadapi dan beradaptasi dengan kondisi tersebut. Menghindari daerah rawan banjir dan longsor, baik sementara maupun permanen, menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko.
“Bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama untuk meminimalkan dampaknya,” tegasnya.
Prof. Eko juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh instansi pemerintah terkait, termasuk Pemprov Aceh, Polda Aceh, Kodam Iskandar Muda, dan instansi lain yang mendukung penanganan bencana.
Penanganan tidak hanya fokus pada tanggap darurat, tetapi juga memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh(*)




